Dosen Pembimbing : Gregorius Daru W.
Nama : Carolina Dinda Sagita Desidiria
NIM : 15.E1.0146
Ideologi tentang Tuhan sungguh-sungguh
menjadi ideologi yang mengubah kemanusiaan sepanjang zaman. Biasanya kata “Tuhan”
dipahami sebagai Sang Mahakuasa dan asas dari suatu kepercayaan. Ada banyak nama untuk menyebut Tuhan
yang melekat pada gagasan masing-masing budaya dan agama.
Para
cendekiawan menganggap berbagai sifat-sifat
Tuhan berasal dari konsep ketuhanan yang berbeda-beda. Yang paling umum, di
antaranya adalah Mahatahu (mengetahui segalanya), Mahakuasa (memiliki kekuasaan
tak terbatas), Mahaada (hadir di mana pun), Mahamulia (mengandung segala
sifat-sifat baik yang sempurna), tak ada yang setara dengan-Nya, serta bersifat
kekal abadi. Dalam pandangan teisme, Tuhan merupakan pencipta sekaligus
pengatur segala kejadian di alam semesta. Menurut deisme, Tuhan merupakan pencipta alam semesta, namun tidak ikut
campur dalam kejadian di alam semesta. Menurut panteisme, Tuhan merupakan alam semesta itu sendiri. Penganut monoteisme percaya bahwa Tuhan hanya
ada satu, serta tidak berwujud (tanpa materi), memiliki pribadi, sumber segala kewajiban
moral, dan "hal terbesar yang dapat direnungkan". Banyak filsuf abad
pertengahan dan modern terkemuka yang mengembangkan argumen untuk mendukung dan
membantah keberadaan Tuhan.
Teisme, Deisme, dan Panteisme
Teisme menegaskan bahwa Tuhan sukar dipahami oleh manusia sekaligus kekal selamanya; maka, Tuhan bersifat tak terbatas sekaligus ada untuk mengurus kejadian di dunia. Meski demikian, tidak seluruh penganut teisme mengakui dalil tersebut. Teologi Katolik menyatakan bahwa Tuhan Mahakuasa sehingga tidak akan terikat pada waktu.
Teisme menegaskan bahwa Tuhan sukar dipahami oleh manusia sekaligus kekal selamanya; maka, Tuhan bersifat tak terbatas sekaligus ada untuk mengurus kejadian di dunia. Meski demikian, tidak seluruh penganut teisme mengakui dalil tersebut. Teologi Katolik menyatakan bahwa Tuhan Mahakuasa sehingga tidak akan terikat pada waktu.
Deisme mengajarkan bahwa Tuhan sukar dipahami
oleh akal manusia. Menurut penganut deisme, Tuhan itu ada, namun tidak ikut
campur dalam urusan kejadian di dunia setelah Ia selesai menciptakan alam
semesta.
Panteisme mengajarkan bahwa Tuhan adalah alam semesta dan alam
semesta itu Tuhan, sedangkan panenteisme menyatakan bahwa Tuhan meliputi alam
semesta, namun alam semesta bukanlah Tuhan.
Kerinduan Manusia
pada Kedamaian
Manusia
senantiasa membutuhkan ketenangan hidup (perdamaian) yang memungkinkannya
mengembangkan dirinya dengan lebih humanis (manusiawi) dalam persaudaraan
sejati. Mewujudkan
perdamaian memerlukan kesadaran, pengakuan dan perhormatan terhadap martabat
dan hak dasariah manusia. Dengan demikian, perhormatan terhadap martabat dan
hak dasariah orang lain merupakan dasar untuk mewujudkan perdamaian sejati
karena setiap orang diciptakan menurut Gambar/Rupa/Citra Allah sendiri.
Prosentase Kepercayaan akan Tuhan
Sampai tahun 2000,
sekitar 53% populasi dunia teridentifikasi sebagai penganut salah satu dari tiga agama
samawi terbesar (33% Kristen, 20% Islam, <1% Yahudi), 6% Buddhis, 13% umat Hindu, 6%
penganut kepercayaan tradisional Tionghoa, 7% penganut agama lainnya, dan kurang dari
15% mengaku tak beragama. Kebanyakan agama yang dianut mengandung kepercayaan
akan Tuhan, roh, dewa-dewi, dan makhluk gaib. Agama samawi selain Kristen, Islam,
dan Yahudi meliputi agama Baha'i, Samaritanisme, Gerakan Rastafari, Yazidisme,
dan Gereja Unifikasi.
Manusia yang Manusiawi
Ciri khas manusia
yang manusiawi: akal kesadaran. Semua antropolog dan teolog akan setuju hal
ini. Manusia adalah makhluk yang mengerti siapa dirinya, apa yang dia inginkan,
bagaimana ia mencapai keinginannya, sadar akan darimana ia berasal dan kemana
ia menuju. Manusia adalah produsen pengetahuan, dan sekaligus direproduksi oleh
pengetahuan. Manusia berkembang karena dipengaruhi oleh pengetahuan, dan di
sisi lain ilmu pengetahuan berkembang karena dipengaruhi proses berpikir
manusia. Dan relasi ini terjadi hanya di satu tempat, ruang, waktu: dunia.
Proses Menjadi Manusia yang Manusiawi
Perkembangan
kemampuan manusia untuk membentuk masyarakat beradab dan berbudaya itu
disebabkan kemampuan khas manusia untuk berpikir dan mengetahui. Kemampuan
berpikir tersebut telah mendorong manusia untuk bereksplorasi dengan memori, daya
intelektualitas, imajinasi, dan kepekaan akan keindahan untuk berfikir tentang
sesuatu yang melebihi pengalamannya seperti keyakinan pada Tuhan, untuk
berkomunikasi, untuk bersosialisasi, untuk bertahan hidup dalam semua situasi,
untuk berkembang bersama perubahan alam (evolusi), untuk mencipta
perubahan-perubahan, untuk menciptakan formula-formula pengetahuan. Manusia
menjadi semakin manusiawi karena ia bisa mengarahkan akalnya untuk merubah
dunia.
Pandangan Kitab Suci tentang Perdamaian (Perjanjian Lama)
Kata Shalom
mengacu pada beberapa arti:
- Sehat jasmani dan kesejahteraan keluarga karena merupakan berkat daari Allah bagi seseorang dan keluarganya.
- Tuhan Sertamu: merupakan salam yang umum dalam perjanjian Lama yang berarti pengharapan supaya manusia memperoleh kebaikan dalam hidup, ketiadaan cacat-cela keadilan dan damai secara rohani (aman dan berada dalam rumah Tuhan) sebagaimana dilukiskan oleh Nabi Yesaya: “Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.” (Yesaya 2: 4)
Di dunia sudah banyak orang yang egois, mementingkan diri
sendiri tanpa memikirkan orang lain. Jadi, saat perang, perpecahan, permusuhan
terjadi. Sebenarnya hati tidak nyaman karena berfikir untuk apa hidup tanpa
kedamaian, jika hidup hanya untuk berperang antara satu sama lain. Manusia
adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup tanpa orang lain, namun banyak orang di
dunia ini masih tidak bisa berfikir lebih jauh tentang “kedamaian”.